Sapi Kena TBC, Bisa Kehilangan Efisiensi Produksi

Penyakit Tuberkulosis (TBC)  ternyata tidak hanya menimpa manusia, namun juga hewan (sapi dan mamalia lainnya, juga unggas, reptilian) yang dapat menular dan bersifat kronis. Penyakit ini di sebabkan oleh bakteri Micobacterium tuberculosis (tbc).

Penyakit ini sudah dikenal sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Robert Koch, antara tahun 1882-1884 berhasil memperlihatkan agen penyebab pada jaringan berpenyakit melalui pewarnaan, kemudian menumbuhkannya secara murni pada media dan membuktikan sifat kepenularan penyakit ini pada hewan percobaan.

Menurut dokter hewan Giyono Trisnadi, yang bekerja di Pusat Karantina Hewan Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian, pada infeksi awal gejala tidak nampak jelas.

”Gejala- gejala yang timbul tergantung organ dimana penyakitnya menginfeksi,” katanya.

Penyakit ini tidak boleh hinggap terutama pada industri pembibitan. Industri pembibitan setidaknya harus bebas dari dua jenis penyakit hewan menular yaitu brucellosis dan tuberculosis

Begitu juga sapi jantan yang dipelihara di Balai Inseminasi Buatan (BIB) untuk pembuatan semen beku harus bebas dari tuberculosis sapi. Status bebas penyakit demikian harus dipantau setiap tahunnya dengan menerapkan uji tuberkulin pada setiap individu sapi yang ada dalam Peternakan atau BIB yang bersangkutan.

Turun samai 25 persen

Menurut Giyono, kerugian ekonomi akibat tuberculosis sapi tidak mudah dinilai. Bukan saja berupa kematian sapi penderita, tapi juga karena kehilangan efisiensi produksi (diperkirakan hingga mencapai 10-25%) pada sapi yang sakit, baik karena kehilangan atau menurunnya produksi susu maupun karena kehilangan daging dan tenaganya.

Ada dua cara penularan tuberculosis sapi yang paling umum, yaitu pertama, penularan melalui saluran pernapasan (per inhalasi), dengan terisapnya virus M.bovis yang dikeluarkan bersama udara ketika penderita bernafas, yang kemudian mencemari udara dalam kandang (droplet infection) oleh hewan sehat yang berada di dekatnya.

Kedua, penularan melalui saluran pencernaan makanan (per ingesti), dengan termakannya M. bovis yang terdapat pada pakan atau air minum tercemar oleh hewan sehat yang ada di sekitar hewan tertular.

Penularan  per  inhalasi  sering  terjadi  pada  sapi  yang  dipelihara  secara terus-menerus dalam kandang, seperti sapi perah dan sapi yang digemukkan. Sedangkan penularan per ingesti lazim dijumpai pada sapi yang hidup biasa merumput di padang gembalaan.

“Penularan pada pedet (anak sapi) umumnya terjadi karena pedet menyusu pada induk sakit atau diberi susu berasal dari induk sapi sakit,” kata Giyono.

Di Indonesia, tuberculosis sapi termasuk salah satu penyakit hewan menular yang wajib dilaporkan dengan segera, bila mengetahui keberadaannya. Tuberculosis sapi pertama kali dilaporkan pada tahun 1905 terjadi pada Perusahaan Susu di Semarang, Jawa Tengah. (Abdul Kholis)

Sumber; Vetnews.co

Foto ilustrasi : www.panoramio.com


Post Terkait

Comments