Lima Faktor Keberhasilan Vaksinasi

Vaksinasi merupakan salah satu metoda pencegahan penyakit melalui peningkatan kekebalan tubuh (pembentukan antibody) yang sangat efektif  untuk melindungi hewan. Namun, dana untuk vaksinasi tidaklah kecil.  Karena itu, sebelum melakukan vaksin,  harus cermati  komponen-komponen penentu keberhasilan vaksinasi.

Menurut dokter hewan Wiji Tyas Utami, dari Pusat Veteriner  Farma, Kementerian Pertanian, keberhasilan vaksinasi bukan hanya ditentukan dari kualitas vaksin. Akan tetapi ada beberapa faktor yang turut berpengaruh, diantaranya, pertama status kebugaran hewan yang divaksin.

“Status kebugaran hewan menempati peringkat tertinggi. Karena sebaik apapun faktor lain,  tapi  jika status kebugarannya buruk, maka hewan tidak bisa menstimulasi pembentukan antibody,” katanya.

Kebugaran sangat dipengaruhi oleh status gizi atau asupan makanan yang kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan jenis dan umur hewan. Hal ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya gangguan metabolisme.

Kedua, program vaksinasi yang ditetapkan juga menentukan. Program vaksinasi ini meliputi penjadwalan pelaksanaan vaksinasi.

“Kita harus mengetahui ada tidaknya maternal antibody (iminusasi pasif) pada hewan yang akan divaksin dan perkiraan umur hewan saat masuknya penyakit,” lanjutnya.

Ketiga,  tata laksana vaksinasi yang meliputi persiapan vaksin. Vaksin yang dipilih sebisa mungkin mempunyai kehomologan dengan mikroba yang ada di lapangan. Lalu persiapan peralatan vaksinasi, yakni semua peralatan harus steril dan tidak terkontaminasi dengan bahan kimia seperti detergen dan logam-logam berat.

Vaksin harus terjaga

Cara penanganan dan penyimpanan vaksin juga harus terjaga rantai dinginnya, mulai dari produsen sampai dengan sesaat sebelum vaksinasi dilaksanakan. Penggunaan vaksin harus tepat, yaitu tepat dosis dan tepat aplikasi.

Keempat, kualitas vaksin. Menurut drh. Wiji, secara fisik vaksin disebut berkualitas baik jika segel vaksin masih utuh, etiket produknya masih terpasang dengan baik, belum kadaluarsa dan bentuk fisiknya tidak berubah.

Jika ditinjau dari fungsinya, maka vaksin dikatakan berkualitas baik jika mampu menstimulasi tubuh hewan untuk membentuk antibody yang protektif

Kelima, penerapan program pendukung, seperti tata laksana pemeliharaan yang baik dengan menerapkan biosafety dan biosecurity yang ketat.

Nah, bila semua faktor-faktor tersebut dilaksanakan dengan baik, maka tingkat perlindungan dari vaksin akan tercapai. (Abdul Kholis)

Sumber: Vetnews.co

Foto ilustrasi: www.1news.id


Post Terkait

Comments