Jangan Sepelekan Ingusan Pada Sapi

Penyakit ingusan bukan hanya menimpa orang yang terserang flu. Bisa juga menyerang pada sapi dan domba. Namun meski hanya ingusan, namun bisa menyebabkan sapi dan domba mati. Hal ini menyebabkan kerugian pada pemilik ternak.

Dikutip dari Buku  “Petunjuk Praktis Manajemen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Pada Sapi”  yang diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2010, disebutkan tentang penyakit yang banyak menyerang sapi  dan domba itu.

Dalam buku pegangan para sarjana membangun desa dan kelompok peternak binaannya itu, secara rinci ditulis gejala penyakit yang dikenal dengan nama Malignant Catharral Fever (MCF) ini. Disebutkan,   timbul gejala demam tinggi 40-41 derajat Celius, kemudian  keluarnya cairan dari hidung, mata yang semula encer akhirnya kental dan mokopurelen.  Diikuti peradangan mulut dan lepuhan dipermukaan lidah sehingga air liur menetes.

Lalu moncong kering dan pecah-pecah terisi nanah,  hidung tersumbat kerak sehingag kesulitan bernafas. Kondisi badan menurun, lemah dan kurus. Kornea mata keruh dan keputihan, dalam keadaan yang serius dapat menyebabkan kebutaan.  Kadang-kadang dapat terjadi radang kulit berupa penebalan dan pengelupasan kulit. Kadang terjadi sembelit yang diikuti diare. Gejala kelainan saraf timbul akibat peradangan otak. Otot-otot gemetar dan berjalan sempoyongan. “Terjadi kelumpuhan sebelum mati. Kematian terjadi biasanya antara 4-13 hari setelah timbul gelaja,”begitu buku yang ditulis oleh Luh Gde Sri Astiti. 

Kejadian penyakit lebih banyak terjadi di daerah peternakan campuran antara sapi atau kerbau dengan domba atau pada daerah penggembalaan. Biasanya, sapi,kerbau dan domba yang digembelakan secara bersamaan.

Untuk pencegahan,  hindari penggembalaan secara bersama antara sapi, kerbau dan domba pada satu lokasi. Kemudian hindarkan pemasukan  domba dari tempat lain karena domba adalah pembawa penyakit (carrier).  Dan yang tak kalah penting, meningkatkan sanitasi lingkungan dan tata laksana pemeliharaan ternak.

Dalam buku tersebut disebutkan, bahwa  pengobatan efektif sampai sekarang belum ada. Umumnya hewan yang sudah sakit tidak bisa diobati.  Tapi usaha maksimal adalah pemberian antibiotik spektrum luas untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

Untuk ternak yang sakit  dapat dipotong dan dikonsumsi, tapi harus  di bawah pengawasan dokter hewan. Kemudian seluruh jaringan yang berjejas (mengalami kerusakan) harus dibuang dan  sisa hasil pemotongan harus dimusnahkan.

Penyakit ini juga ditularkan dari induk ke anak dalam sejak dalam kandungan,   karena  virus mampu menerobos placenta menuju janin. Virus yang terbebas dari sel bergerak menuju hidung dan mata dari hewan perantara muda yang kemudian menderita infeksi segera setelah lahir.

Induk semang akhir (hewan sehat) tertular dengan menghirup percikanudara dari anak tersebut melalui pakan yang tercemar. (Abdul Kholis)

Sumber:

Petunjuk Praktis Manajemen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Pada Sapi

Diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat (NTB), Kementerian Pertanian,  2010.


Post Terkait

Comments