42nd FAVA Council Meeting

Federation of Asian Veterinary Association (FAVA) menggelar 42nd FAVA COUNCIL MEETING secara virtual pada 15 & 16 Oktober 2020.  Dalam meeting tersebut, para negara anggota FAVA menyampaikan laporan masing-masing.

Beberapa negara  yang turut dalam meeting virtual ini antara lain, Indonesia, Jepang, Myanmar, Vietnam, Korea, Nepal, Malaysia, Taiwan, India, Republik Kyrgyzstan, dan Emirates.

Masing-masing negara anggota menyampaikan kondisi terkini seputar dunia kedokteran hewan. Sharing informasi ini menjadi hal yang cukup berharga bagi masing-masing asosiasi dokter hewan negara anggota.

Jepang, melaporkan  

Japan Veterinary Medical Association (JVMA) melaporkan perubahan signifikan dalam urusan veteriner di Jepang. Dalam laporan yang disampaikan Presiden JVMA, Dr. Isao Kurauchi terdapat empat perubahan yang terjadi di negaranya.

  1. Perawat veteriner telah menjadi kualifikasi nasional

Saat ini, terdapat 25.275 perawat hewan bersertifikat swasta di Jepang. Undang-undang tentang Perawat Hewan Pendamping dibuat pada tahun 2019, yang mempromosikan perolehan lisensi nasional untuk menangani perawat hewan, yaitu anjing dan kucing. Kedepannya, sarjana perawat veteriner akan dididik dengan kurikulum yang mampu menghadapi kedokteran hewan tingkat lanjut.

  1. Undang-Undang Perlindungan dan Pengendalian Hewan diubah, mewajibkan penyematan microchip untuk anjing dan kucing

Undang-Undang Perlindungan dan Pengendalian Hewan harus ditinjau ulang setiap lima tahun. Amandemen tahun 2019 mengatur penjualan hewan yang berusia kurang dari 56 hari dan mewajibkan anjing dan kucing yang dijual di toko hewan peliharaan diberi microchip. Selain itu, standar kepatuhan untuk perawatan dan pengelolaan anjing, kucing, dan hewan lain yang tepat di peternak dan toko hewan peliharaan telah diperkuat, dan hukuman untuk pelecehan hewan telah ditingkatkan.

  1. Upaya Jepang untuk kembali ke status bebas CSF

Di Jepang, 58 kasus CSF di delapan distrik telah terkonfirmasi sejak 2018. Virus CSF menyebar pada babi hutan. Oleh karena itu, vaksinasi CSF babi peliharaan dan babi hutan telah dimulai sejak Oktober 2019. Pada September 2020, Jepang

kehilangan status bebas CSF yang ditentukan oleh OIE. Untuk kembali ke status bebas penyakit, Jepang secara ketat memisahkan hewan liar dan babi peliharaan, memperkuat penangkapan babi hutan, penyemprotan vaksin oral di daerah pegunungan, dan mempromosikan produksi domestik vaksin penanda.

  1. Penangkal penyebaran ASF di Asia

Meskipun tidak ada ASF yang terjadi di Jepang hingga saat ini, Undang-Undang tentang Pengendalian Penyakit Menular Hewan Domestik diubah pada tahun 2020 untuk memperkuat tindakan terhadap ASF selain CSF untuk mencegah infestasi dan untuk memungkinkan respons yang cepat ketika wabah memang terjadi. Jika ASF dikonfirmasi pada babi ternak atau babi hutan, babi ternak yang dipelihara oleh peternak dalam radius 500m hingga 3 km dari titik tersebut harus dibunuh dengan hati-hati. Untuk mencegah infestasi, produk daging dilarang dibawa ke prefektur, anjing karantina ditingkatkan, dan database pelanggar di bandara dan pelabuhan sedang disusun dan dihukum berat.

Untuk laporan dari negara lain akan dokterhewan.co.id sampaikan secara berseri. (aks)

 


Post Terkait

Comments