Sifat-Sifat Penyakit EBL yang Menyerang Sapi

Di kalangan peternak, istilah penyakit Lekosis enzootis bovina (EBL) jarang dimengerti. Memang ini merupakan istilah yang hanya lazim dipahami oleh kalangan tertentu, seperti dokter hewan.

EBL merupakan penyakit ganas yang menyerang susunan retikulo-endotel (RES). Penyebab EBL ialah retrovirus yang dapat menimbulkan lekosis (leukemogenic) dan di bawah mikroskop elektron berupa partikel tipe C.

Nama lekosis lebih sering dipergunakan daripada leukemia untuk menghindarkan asosiasi tidak benar, dengan leukemia pada manusia: EBL tidak bersifat zoonosis.

Virus EBL secara morfologis menyerupai virus tipe C pada lain spesies dan juga mematang pada permukaan sel melalui pertombolan (budding). Virus mempunyai buoyant density 1.18 g/ml dan terdiri dari RNA 60S - 70S yang beruntai tunggal (single-stranded) dan memiliki enzim reverse transcriptase.

Protein p25 virus EBL telah dianalisis secara intensif memakai teknik imunofluoresensi, imunodifusi dan radioimunopresipitasi dan nyata bahwa p25 EBL mempunyai determinan antigenis yang berbeda daripada determinan pada virus onkorna mamalia lain atau unggas. Juga enzim reverse transcriptase, glikoprotein pada envelop dan p15 secara antigenis berbeda dari protein yang sama daripada virus onkogen lain.

Demikian pula enzim reverse transcriptase berbeda dari enzim sama pada virus tipe C mamalia lain karena memerlukan Ca-ion untuk dapat berfungsi; virus tipe C lain memerlukan untuk fungsinya Mg-ion. Sifat lain ialah bahwa dengan teknik hibridisasi molekuler tidak ditemukan kesamaan (homology) antara asam nukleida virus EBL dengan retrovirus lain.

Dari sisi sifat biologis, anak sapi yang sesudah lahir disuntik dengan darah sapi yang menderita biasanya membentuk antibodi terhadap virus EBL dalam beberapa minggu (1 sampai 3 bulan); tetapi gejala limfositosis persisten umumnya terlihat sesudah beberapa tahun (2 - 5 tahun). Beberapa dintara hewan-hewan yang memperlihatkan limfositosis kemudian memperlihatkan pembengkakan kelenjar limfa.

Hewan percobaan dapat juga ditulari dengan limfosit yang berasal dari hewan sakit yang sebelumnya diinjeksikan dibiakan in vitro. Juga material yang tidak mengandung sel, dapat dipergunakan untuk infeksi; demikian pula infeksi mungkin dilakukan melalui jalan oral.

Penyakit dapat juga dipindahkan pada domba dan kambing. Keberhasilan infeksi eksperimental akan lebih besar bila dipergunakan anak domba yang baru lahir.

Dari hasil suntikan air liur, suspensi faeces dan air seni (dicampur dengan antibiotika) pada anak domba dapat diambil kesimpulan bahwa virus EBL hanya disebarkan melalui air liur.

Suspensi feses dan air seni tidak mengandung virus. Juga virus dapat dipindahkan melalui tetes aerosol; yang akhir ini dibuktikan bila anak sapi diikat berdekatan dengan sapi sakit di kandang. Sesudah beberapa minggu anak sapi menjadi sero-positif terhadap badan penangkis melawan virus EBL.

Pemindahan virus melalui serangga penghisap darah (Tabanus, Hippobosca dan sebagainya) juga mungkin. Pemindahan virus melalui instrumen (jarum suntik) dokter hewan besar sekali.

Hingga sekarang tidak ada bukti bahwa manusia dapat ditulari oleh virus EBL. Kelinci, kera dan simpanse membentuk antibodi sesudah disuntik dengan virus EBL tetapi virus ini tidak dapat diisolasi kembali. (A.Kholis/berbagai sumber)

foto: Dictio.id


Post Terkait

Comments