PDHI Kerahkan Dokter Hewan Untuk Pastikan Kesehatan Hewan Kurban

Perayaan Hari Raya Idul Adha tinggal lima hari lagi. Penjualan hewan kurban di berbagai daerah sudah marak sejak sebulan lalu. Hanya saja, tahun ini sedikit berbeda, tidak seramai tahun-tahun sebelumya, karena terdampak pandemi Covid-19.

Namun demikian, kepastian kesehatan hewan kurban yang dijual harus tetap dipantau. Untuk itu, dokter hewan yang tergabung di Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) di seluruh wilayah Indonesia melaksanakan pemeriksaan hewan kurban untuk menjamin agar hewan kurban sehat dan tidak membawa penyakit yang dapat menular ke manusia.

Pemeriksaan dilakukan secara ante mortum sebelum disembelih dan post mortum setelah di sembelih. Ada beberapa penyakit yang dapat ditularkan dari hewan kambing, misal ORF dan penyakit antrak yang dapat ditularkan oleh sapi dan kerbau.

Drh Puput Rijalu Wijaya, Ketua PDHI Cabang Jawa Timur 7 bekerja sama sama dengan Dinas memberikan sertifikat kesehatan bagi hewan kurban yang akan dijual ke masyarakat (Dok. PDHI)

Drh Puput Rijalu Wijaya, Ketua PDHI Cabang Jawa Timur 7 bekerja sama sama dengan Dinas memberikan sertifikat kesehatan bagi hewan kurban yang akan dijual ke masyarakat (Dok. PDHI)

 

ORF atau Ektima Kontagiosa adalah sejenis penyakit kulit sangat menular yang disebabkan oleh virus dari genus virus parapox dari keluarga virus Poxviridae yang menginfeksi ternak.

Di Jawa Timur, sejumlah dokter hewan telah dikerahkan ke lapangan untuk memeriksa kesehatan hewan kurban yang siap dipasarkan.  Para dokter hewan mendatangi lapak-lapak penjualan hewan kurban dan melakukan pemeriksaan secara cermat.

Protokol Kesehatan

Selain Jawa Timur, 150 dokter hewan dikerahkan untuk periksa ribuan hewan kurban di Semarang, Jawa Tengah. Dinas Pertanian Kota Semarang dibantu ratusan dokter hewan melakukan pemeriksaan hewan kurban

Seperti yang dilansir dari TimesIndonesia.co.id, Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, mengatakan selama dua minggu pihaknya memeriksa di berbagai tempat, dari sisi kualitas hewan untuk tahun ini lebih baik.

Theresia Ana Ekawati, Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jateng I sedang memeriksa kambing yang dijadikan hewan kurban. (FOTO: Mushonifin/TIMES Indonesia).

 

"Itu karena kami menetapkam standar kesehatan hewan qurban, salah satu persyaratan baik penjual maupun pembeli harus melengkapi surat kesehatan hewan. Selain itu kami juga menerapkan protokol kesehatan dari sisi penjualan dan distibusinya," ujarnya melakukan pemeriksaan hewan kurban di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Jalan Jolotundo, Semarang timur.

"Namun dari sisi jumlah berkurang cukup drastis, entah karena covid-19 atau karena penjualan online," sambungnya.

Dalam memeriksa kesehatan hewan qurban, Dinas Pertanian Kota Semarang dibantu oleh 150 dokter hewan yang terabung dalam Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jateng I.

"Kami berterimakasih kepada teman-teman dari Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) yang melibatkan 150 dokter hewan untuk membantu kami memeriksa hewan yang akan dikurbankan," ucapnya.

Menurut Theresia Ana Ekawati selaku Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Tengah I, hingga saat ini belum ditemukan hewan kurban yang mengalami gangguan kesehatan.

PDHI akan terus mengawasi dan memeriksa hewan qurban hingga saat pemotongan dan kelayakan konsumsi dagingnya.

"Kami akan melakukan prosedur pemeriksaan dan pengawasan dari saat ini hingga nanti dipotong dan akan diperiksa kembali apakah daging yang sudah dipotong nanti layak konsumsi atau tidak. Kondisi kesehatan hewan qurban saya perhatikan semakin baik dari tahun ketahun. Bahkan tahun ini lebih sehat dari tahun kemarin," ucapnya. (aks/berbagai sumber)

GALERI FOTO

Dr.drh. Jafrizal, Ketua PDHI Cabang Sumatera Selatan

 

 


Post Terkait

Comments