Mengamputasi Kaki Harimau Sumatera

Ini cerita pengalaman luar bisa yang pernah saya alami pada tahun 2010. Pengalaman menangani Harimau Sumatera yang kakinya membusuk akibat  terjerat ranjau atau perangkap milik warga di Aceh. 

Seperti halnya yang terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia, di Aceh pun tak sedikit warga yang membuka perkebunan di sekitar kawasan hutan. Menurut saya, dalam kasus terjeratnya Harimau Sumatera ini juga bagian dari kesalahan warga di sana. Sebab, mereka membuka ladang perkebunan di area dimana habitat Harimau Sumatera itu ada.

Naluri hewan, apalagi seperti harimau, tentu akan berusaha mempertahankan lingkungan habitatnya dari jarahan makhluk lain. Dia akan tetap berkeliaran di sekitar daerah dimana selama ini menjadi wialayah “kekuasaanya”.

Di sisi lain, warga yang membuat areal perkebunan baru itu pun khawatir kalau sewaktu-waktu ada harimau menyerang mereka. Akhirnya mereka membuat perangkap yang cukup membahayakan bagi hewan apa saja yang masuk ke dalamnya.

Hingga pada suatu hari, ada seekor Harimau Sumatera yang melintas di sekitar perkebunan warga dan terjerat dalam perangkap yang mereka buat. Beruntung, sebelum harimau ini mati warga pemilik ladang perkebunan tadi segera melapor ke pihak BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Banda Aceh.

Untuk menangani masalah ini BKSDA Aceh kemudian bekerjasama dengan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkungan yang peduli dengan kondisi Harimau Sumatera. Para aktivis ini kemudian membawa hewan ini ke Klinik Fakultas Keddokteran Hewan Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh.

Namun sayangnya, kondisi salah satu kaki hewan yang dilindungi ini sudah membusuk. Diperkirakan hewan ini sudah terperangkap selama lima hari. Satu-satunya jalan agar harimau ini terselamatkan dan tetap hidup adalah dengan mengamputasi bagian kaki yang telah membusuk tadi.

Proses amputasi ini tidak dilakukan oleh saya sendiri. Tetapi ada juga dokter hewan lainnya, sepertii drh. Syafrudin, drh. Arman, dan drh. Christoper dari Jerman.  

Menangani amputasi hewan liar seperti harimau tidaklah semudah menangani amputasi pada anjing. Luka pada harimau lebih sukar untuk sembuh dibandingkan dengan luka pada anjing.

Setelah kami tangani, dua hari berikutnya memang sudah terlihat sembuh lukanya. Namun beberapa hari berikutnya, setelah kondisi harimau tersebut pulih, kaki lainnya menggaruk-garuk bagian luka yang sudah mengering setelah diamputasi. Mungkin karena hewan ini merasakan gatal. Akibatnya, luka yang sudah mengering jadi terbuka lagi.

Kami para dokter pun kembali menjahit lagi luka kaki harimau tersebut, setelah dilakukan pembiusan. Dua hari berikutnya, luka kembali mengering, namun lagi-lagi hewan ini kembali menggaruk-garuk lukanya. Dan, luka kakinya pun kembali terbuka.

Agar tak terjadi pengulangan penjahitan, akibat digaruk-garuk, kami tim dokter yang menangani ini mencari cara yang paling tepat. Hingga akhirnya kami menemukan ide sederhana untuk mengatasi masalah ini. Kami menutup bagian kaki yang dijahit lukanya itu dengan vas bunga berbahan plastik.

Vas bunga itu kami ikat dengan perban agar tak muah lepas. Vas bunga itu kami beri beberapa lubang pada setiap sisinya agar menjadi sirkulasi udara di dalamnya. Bersykur, ternyata cara ini cukup ampuh untuk mencegah terjadinya “garukan” kaki harimau.

Hingga akhirnya luka Hariumau Sumatera itu benar-benar sembuh. Kami benar-benar bersyukur, bisa menemukan ide sederhana namun bisa mengatasi masalah yang sudah dua kali penanganan.

Bagi teman-teman dokter hewan, mungkin ini bisa menjadi inspirasi ketika mengalami kesulitan yang sama dengan  pengalaman saya dan dokter-dokter lain di Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Ide-ide kreatif memang kadang bisa muncul di saat kita sedang mengalami keterbatasan peralatan.

Penulis : Abdul Kholis

Sumber: Vetnews.co

Dikisahkan oleh : Drh.Erwin, MSc (Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)

 


Post Terkait

Comments