Jika Anda Alergi pada Kucing

Pasti teman-teman dokter, sering mendengar bahwa sebagian orang ada yang alergi terhadap kucing. Bersin-bersin, atau meradang setelah memegang kucing. Siapapun sungguh sangat tidak nyaman jika terkena alergi yang satu ini.

Informasi ini bisa juga kita share kepada para pemilik kucing, saat mereka berkunjung ke klinik atau rumah sakit hewan dimana rekan-rekan dokter hewan bertugas.

Seperti sudah diketahui, bahwa ada berbagai macam alergi yang dapat menyerang manusia. Salah satunya adalah alergi terhadap kucing. Namun sebagian orang menilai, alergi terhadap kucing adalah hal yang paling menyiksa batin.

Tidak bisa berdekatan, mengelus, bermain, atau memeluk binatang mungil nan lucu tersebut. Bagi sebagian orang, bahkan hal ini dianggap lebih menyiksa dari pada terkena penyakit gatal-gatal yang diakibatkan makan sea food.

Belum lama ini, para peneliti di luar negeri telah mengidentifikasi, bagaimana jalur reaksi alergi manusia terhadap kucing. Penelitian ini telah memunculkan satu harapan baru untuk segera mendapatkan sebuah obat pencegahan yang lebih efeksitif dan efisien.

Seorang peneliti yang bernama Dr Clare Bryant dari University of Cambridge, dan memimpin para ahli lainnya untuk meneliti protein yang ditemukan pada kulit kucing. Protein yang menempel pada kulit kucing atau lebih dikenal dengan ketombe kucing,  diduga menjadi penyebab utama datangnya alergi.

Dari hasil penelitian tim tersebut ditemukan bahwa terdapat suatu jalur tertentu dalam tubuh kita yang proaktif jika terkena alergen dari kucing. Dari reaksi tersebut, kita dihadapkan pada bakterial toksin. Fenomena ini memicu respon daya imune tubuh yang besar bagi penderita alergi, sehingga menyebabkan gejala-gejala seperti bersin-bersin, batuk, atau hidung meler.

Hasil penelitian yang dilansir oleh BBC News, Dr Bryant mengatakan bahwa dengan memahami mekanisme dasarnya, obat yang diciptakan setelah melalui uji klinis, dapat mencegah alergi terhadap kucing. Sebuah reaksi alergi muncul ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi dalam mendeteksi ancaman kesehatan, khususnya ketombe kucing atau bulu kucing.

Hasil dari penelitian yang telah  dipublikasikan dalam Journal of Immunology ini, tentu saja, dapat memberikan harapan baru bagi para penderita alergi kucing, apalagi jika mereka yang ingin memelihara hewan menggemaskan ini. Karena itu, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan obat anti alergi agar Anda tetap dapat bersentuhan dengan kucing Anda.

 Alergi pada kucing

Molly Willms memberikan anjuran untuk Anda yang memiliki alergi terhadap kucing, tetapi ingin memelihara kucing. Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu Anda ketahui :

  • Perlu diketahui, alergi kucing disebabkan oleh sebuah zat yang disebut Fel d1. Zat ini terdapat pada liur dan bulu kucing serta bisa bertebaran di udara. Solusinya adalah memelihara jenis kucing berbulu pendek. Kucing Siberian, misalnya. Atau memelihara kucing dari jenis kucing hypoallergenic.
  • Jika sudah memelihara kucing, Anda perlu sering memandikannya. Sebab, hal ini dapat menghindari timbulnya zat Fel d1 Namun, jika dilakukan sendiri, sepertinya kegiatan ini akan sangat menyiksa bagi Anda dan juga kucing Anda. Solusinya adalah akan lebih baik jika anda menyewa jasa grooming.
  • Selanjutnya, jangan biarkan kucing masuk ke area-area pribadi Anda, seperti kamar tidur, kamar mandi, dan area dapur atau meja makan. Agar mereka tidak ‘merontokkan’ bulu mereka di tempat-tempat tersebut yang membuat Anda tersiksa. (aks)

Reference : Majalah Kitty & Me


Post Terkait

Comments