Drh. Tri Satya Putri Naipospos M.Phil. PhD.: Menyehatkan Hewan dan Manusia

Dokter hewan yang satu ini memang layak mendapat penghargaan. Perjuangannya dalam menyehatkan hewan dan manusia sudah tak diragukan lagi. Lika liku pengabdiannya itu sudah kerap menghiasi halaman media nasional sejak lama.

Wajar jika kemudian Harian Kompas memberikan apresiasi kepada wanita yang sudah masuk deretan sebagai tokoh Indonesia versi portal Tokoh.id. di kalangam awak media, Tri Satya Putri Naipospos Hutabarat merupakan paduan dari peneliti, aktivis, dan birokrat.

Dia pernah berada di puncak dari tiga posisi ini. Meski demikian, pemikirannya yang kritis membuatnya lebih menikmati sebagai peneliti dan aktivis kesehatan hewan demi kesejahteraan manusia. Karya bukunya juga cukup memberi pencerahan bagi publik terkait dengan kesehatan manusia dan hewan.

Salah satu buku yang populer adalah yang berjudul Kesehatan Hewan untuk Kesejahteraan Manusia, yang diterbitkan oleh CIVAS Press. Cukup deatil dalam buku ini Tri Satya Putri Naipospos Hutabarat menjabarkan.

Salah satu bagian yang diungkap adalah tentangPeran dan Tantangan Dokter Hewan Dalam Globalisasi Perdagangan”. Pada bagian ini dijelaskan, bahwa peran dokter hewan di pemerintahan sangat penting terutama dalam mengambil, menentukan dan menjalankan kebijakan mengenai segala hal yang menyangkut pembangunan peternakan pada umumnya dan pembangunan kesehatan hewan pada khususnya.

Seringkali kebijakan yang harus diambil sangat sulit dan rumit serta mempunyai dampak yang luas dan sangat nyata bagi masyarakat, sehingga memerlukan berbagai pertimbangan baik teknis, sosial, ekonomi, maupun politik yang acuan referensinya belum tentu diperoleh dengan mudah dan dalam waktu singkat.

Dengan berlakunya era perdagangan bebas dan tantangan pembangunan peternakan yang semakin kompleks, maka peran dokter hewan di pemerintahan telah mengalami pergeseran.

Menurutnya, pendekatan yang dahulu hanya berupa pendekatan penyakit (disease approach), telah berubah menjadi pendekatan kesehatan hewan (animal health approach) secara menyeluruh.

Begitu juga dengan semakin ketatnya persaingan perdagangan ternak dan hasil ternak antar negara, maka konsep risiko nol (zero risk) telah bergeser menjadi konsep risiko yang masih dapat diterima (acceptable risk).

Perubahan sangat cepat yang terjadi pada sistem produksi ternak dan hasil ternak merupakan tantangan bagi profesi dokter hewan. Perubahan ini menyangkut kecenderungan terjadinya peningkatan menyeluruh dari skala operasional industri, integrasi vertikal, kemajuan dalam efisiensi pasar, dan regionalisasi produksi.

Perubahan ini paralel dengan yang terjadi pada ekonomi global terutama dengan terbentuknya blok-blok perdagangan dan penandatanganan perjanjian perdagangan bebas antara dua negara atau lebih.

Hal ini menuntut reaksi yang cepat dan tepat dari dokter hewan pemerintah sebagai pengambil kebijakan untuk mengantisipasi setiap perubahan dengan perhitungan analisa risiko (risk analysis) yang kritis dan sistematis.

Peran dokter hewan di pemerintahan

Peran dokter hewan di pemerintahan begitu luas, oleh karena berkaitan bukan hanya dengan disiplin ilmunya semata-mata, akan tetapi juga berkaitan dengan disiplin ilmu pertanian, kesehatan masyarakat dan pangan (agriculture, public health and food).

Dengan demikian tantangan dokter hewan di pemerintahan ke depan sangat berat karena memiliki peran yang interdisipliner dan harus memainkan peran penghubung (liaison roles) dari ke-tiga disiplin ilmu tersebut diatas.

Berbagai hal yang harus ditangani oleh dokter hewan pemerintah sebagai katalis pembangunan sektor pertanian pada umumnya dan subsektor peternakan pada khususnya.

Menurut tokoh ini, tantangan dokter hewan pemerintah terutama dalam menangani berbagai hal tersebut, termasuk pengendalian penyakit (disease control), keamanan pangan (food safety), dan kesehatan lingkungan (environmental health).

Dengan demikian kontribusi profesi dokter hewan pemerintah dalam konteks pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat tidak bisa lepas dari peranannya dalam membebaskan suatu wilayah/negara dari penyakit hewan menular tertentu, mempertahankan kebebasan suatu wilayah/negara dari penyakit hewan menular tertentu, dan menyediakan bahan pangan hewani yang memenuhi persyaratan aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Disamping itu diperlukan keterlibatan yang sangat intens dari dokter hewan pemerintah dalam mengantisipasi kemungkinan masuknya penyakit dari luar wilayah/negara atau timbulnya wabah penyakit hewan menular dengan suatu manajemen kesiagaan darurat (emergency management).

Begitu juga penanganan dokter hewan pemerintah dalam setiap tahapan dan komponen yang membangun mata rantai penyediaan bahan pangan asal ternak “dari peternakan sampai konsumen” (from farm to table). (A. Kholis)


Post Terkait

Comments