Daging Kerbau India Bisa Jadi “Hantu” Peternak Sapi Lokal

Ketua Ikatan Sarjana Ilmu Peternakan Indonesia (ISPI) Didik Purwanto meminta pemerintah meninjau ulang kembali impor daging kerbau dari India. Hasil kajian menunjukan dari aspek ekonomi dan sosial, impor itu tidak menguntungkan peternak sapi dalam negeri.

“Harga daging dalam negeri tidak kunjung turun dan peternak tertekan dengan adanya daging kerbau india. Peternak tidak bergairah mengembangkan peternakan sapi potong,” ujar Didik pada acara Seminar Nasional Dampak Impotasi Daging Kerbau terhadap Usaha Sapi Potong di Hotel Aston Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Maka itu, dia meminta pemerintah segera menyetop impor daging kerbau India. “Pemerintah harus meninjau ulang kebijakan importasi daging kerbau asal India. Karena kalau terus dibiarkan, akan membahayakan peternak lokal,” jelas dia.

Didik menyebutkan, pemerintah impor daging kerbau sejak tahun 2016 hingga tahun ini tidak berdampak langsung terhadap penurunan harga daging nasional. “Tidak berhasil memenuhi ekspektasi pemerintah menurunkan harga daging menjadi Rp 80.000 per kilogram (kg),” terang dia.

Dia menambahkan, impor daging kerbau membawa efek negatif terhadap kehidupan sosial peternak. Peternak sapi potong tidak lagi bergairah karena harus berhdapan langsung dengan daging india.

Menurutnya, ke depan akan membahayakan peternakan sapi lokal. Dampak sosial kepada peternak sudah tidak ingin mengembangkan ternak sapinya, padahal mereka menjadi tulang punggung suplai daging dalam negeri.

“Produktivitas sapi lokal akan berkurang dan imbasnya produksi daging juga akan menurun. Maka kita akan semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri. Ujugnya bakal dipenuhi dari impor,” ujar dia.

Selain itu, kata dia, penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) ini perlu dilakukan pengawasan yang ketat. Dalam Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia tidak diperbolehkan impor dagin dari negara yang belum bebas PMK seperti India.

Apabila tdak dilakukan pengawsasan karena daging bisa lari kemana-mana. Dikhawatirkan terjadi kontaminasi penyebaran penyakit PMK di Indonesia. Karena kita tidak bisa mengontrol peredaran daging tersebut.

Meskipun, katanya, hingga kini belum ada indikasi PMK masuk Indonesia. Kita berharap itu tidak terjadi. Dari tahun 1983 hingga kini indonesia masuk ketagori negara bebas dari PMK.

“Untuk itu, peran Badan Karantina Pertanian ini penting dalam pengawasan peredaran daging kerbau India. Lalu lintas daging harus diawasi harus ada penyertaan surat kesehatan hewan dari dinas kesehatan setempat,” pungkas dia

Adapun data impor daging kerbau India pada tahun Tahun 2016 sebanyak 39.000 ton, pada 2017 sebesar 54.000 ton. Kemudian tahun 2018 meningkat lagi menjadi 79.000 ton, bahkan tahun 2019 sekitar 100.000 ton.


Post Terkait

Comments