Ayam Jamu, Sehat dan Enak Disantap

Pola hidup sehat yang sedang menjadi tren masyarakat saat ini, membuat Yulius Wahyu melakukan inovasi dalam peternakan ayam di Yosomulyo, Metro, Lampung. Yulius  mendirikan Kelompok Peternak Ayam Berkat Usaha Bersama, dengan menghimpun para peternak setempat.

Kelebihannya, ayam-ayam yang berada di bawah kelompok taninya hanya diberi pakan dan minuman yang terbuat dari bahan jamu.

“Ada 12 bahan jamu sebagai campuran,” kata Yulius saat berbincang dengan Vetnews.co,  di Jakarta.

Hasilnya, jadilah ayam probiotik yang jauh dari bahan kimia dan sehat untuk disantap.  Untuk menguji bahwa ayam hasil peliharaanya  probiotik, bisa diuji di laboratorium, yakni ketika residu ayam tidak mengandung bahan kimia.

Menurut Yulius, penggunaan jamu-jamuan atau herbal akan menghasilkan daging ayam yang lebih sehat, karena tidak mengandung obat penyebab residu antibiotika, mitotoksin, pestisida, dan logam berat.

Nah, jamu-jamuan tersebut diaplikasikan pada pemeliharaan ayam broiler atau pedaging, untuk menggantikan penggunaan dan fungsi bahan-bahan kimia sintesis seperti obat, vitamin, dan obat hewan lain yang mengandung antibiotika.

Bahkan ketika masih hidup pun ayam akan lebih sehat, sebab pemberian jamu-jamuan tersebut meningkatkan kesehatan ayam dengan cara memperbaiki keseimbangan flora usus dengan jumlah yang memadai.

Selain itu, dapat meningkatkan daya cerna ayam sekaligus menghambat pertumbuhan bakteri pathogen dalam saluran pencernaan, kondisi kandang dan lingkungan sekitar juga terjaga, karena kotoran yang dihasilkan menjadi lebih sedikit. Sehingga kondisi kandang menjadi lebih bersih, bau amoniak yang dihasilkan menjadi berkurang.

Tidak cemari lingkungan

Menurut Yulius, ayam probiotik bukan karena  jenisnya. Tapi karena pemeliharaan dan pakan yang diberikan. Sebab, ayam tersebut bisa saja ayam broiler dan ayam kampung.

“Untuk ayam kampung saya mengambil dari masyarakat setempat. Hanya saja ayam kampungnya tidak diumbar tapi dikandangkan,” katanya.

Tidak heran bila hasil peternakan kelompok tani ini sudah menembus berbagai pasar modern di Jakarta.

Budidaya ayam jamu yang dikembangkan Yulius dan kawan-kawan sudah dimulai sejak 2008. Saat itu, masyarakat punya inisiatif untuk memanfaatkan lahan terlantar agar menghasilkan uang.

Cara budidaya khas ayam jamu dipilih karena tidak mencemari lingkungan. Peternakannya tidak berbau, tidak mengundang lalat, dan menghasilkan ayam yang sehat. Menurut Yulius, perwakilan Badan Pangan Dunia (FAO) pun pernah mendatangi kelompok peternakannya.

“Mereka (perwakilan FAO) heran, sebab Lampung kan endemik Flu Burung, tapi mampu menghasilkan ayam sehat, bahkan hingga dijual ke luar Lampung,” ujarnya bangga.

Yulius dan kawan-kawan tidak berhenti pada peternakan, tapi juga sekalian membuka rumah potong unggas yang semuanya sudah bersertifikasi, mulai dari Sertifikat Juru Sembelih Halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, Sertifikat Halal Rumah Potong Unggas yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia, Sertifikat Halal Daging Ayam Probio yang semuanya dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia.

Dan juga Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) yang dikeluarkan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai bukti telah dipenuhinya persyaratan hygiene-sanitasi sebagai dasar kelayakan jaminan keamanan pangan asal hewan. (Abdul Kholis)

Sumber: vetnews.co


Post Terkait

Comments